MENULIS MENYAJIKAN CITA RASA MAKNA
Ketika kita berbicara tentang menulis, terdapat dua hal yang terlintas dalam benak kita. Dua hal itu adalah menyusun rangkaian kata membentuk untaian kalimat, dan/atau menuangkan huruf-huruf pada kertas atau bahan dasar lainnya, baik menggunakan alat tulis yang digerakkan oleh tangan, ataupun menggunakan tuts tuts laptop atau keybord komputer kita. Hal yang sama, diantara keduanya adalah menuangkan ide atau perasaan atau imajinasi dan/atau apa saja yang ingin disampaikan kepada dunia.
Dulu, kita memiliki pengalaman menulis indah sebagai salah satu bagian pembelajaran menulis di tingkat sekolah dasar. Hampir sebagian besar dari kita memiliki pengalaman tersebut. Saya ingat, saat itu, saya minta dibelikan buku halus. Buku halus adalah istilah untuk buku tulis garis-garis berbeda dengan buku tulis biasa. Garis-garis itu untuk kerangka atau bingkai tulisan kita sedemikian sehingga menghasilkan tulisan yang indah dan halus. Ketika Anda membaca rangkaian kata-kata sebelum kalimat ini, secara otomatis pikiran Anda menampilkan ingatan tentang kenangan ini. Seketika pula, rangkaian cerita tentang buku halus dan menulis halus, sebagaimana yang Anda alami, melintas saat ini di benak Anda bak rangkaian gerbong cerita kenangan indah itu. Kejadian demi kejadian muncul dan tanpa terasa Anda tersenyum, sebagai ungkapan bahagia memiliki kenangan tentang buku dan menulis indah.
Nyatakan Cinta mu melalui tulisan, sayang...
Jaman terus berubah, dan ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan perubahan-perubahan di masyarakat. Salah satu contohnya adalah media untuk menulis. Pada saat kita masih sekolah pada tingkatan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, yang selanjutnya dikenal dengan SMP dan SMA, mungkin Anda dan saya sama pengalamannya berkaitan dengan menulis. Saat itu, kita pada tahun 1987-1998, mungkin lebih terbiasa melihat mesin ketik dibandingkan laptop atau komputer, apalagi handphone atau mobilephone.
Kita lebih sering mencatat pelajaran sekolah atau mengerjakan tugas-tugas sekolah pada lembaran kertas yang kita kenal dengan buku catatan sekolah. Demikian rajinnya kita dulu menuangkan dalam bentuk tulisan tangan yang benar-benar ditulis oleh tangan kita sendiri pada buku catatan kita masing-masing. Kita sering membuka kembali catatan itu untuk menghafalkan materi pelajaran atau mencatat beberapa hal baru. Pada saat yang bersamaan, kita mengalami apa yang namanya jatuh cinta.
Jatuh cinta berjuta rasanya, juga diungkapkan dalam sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Ibu Titik Puspa. Pada waktu romantika remaja SMP dan SMA jatuh cinta di masa saya dan Anda, masih ingatkan Anda ataukah Anda pernah mengalami jual beli kertas berwarna dan harum? Kita menuangkan tulisan untuk membalas tulisan seseorang yang mengagumi kita. Bahkan untuk mendapatkan tulisan dan ungkapan yang indah dan manis, kita sering merobek dan membuang kertas pertama-kedua-ketiga karena tulisan kita dan/atau ungkapan kita yang kita tuliskan pada kertas itu jelek atau kurang indah. Saya yakin, ketika Anda membaca ini, Andapun tersenyum manakala ternyata Anda mengalami hal yang sama. Dan bahkan beberapa orang, masih menyimpan surat-surat yang ditulis dengan tulisan tangan pada secarik kertas-kertas berharga itu.
Ungkapan cinta, bukan saja ditulis pada kertas yang indah dan harum. Beberapa diantara kita, mendapatkan tulisan pada lembaran catatan buku catatan kita yang dipinjam seseorang. Ketika tulisan dan orang yang menulisnya sesuai dengan rasa yang kita rasakan terhadap orang itu, kita tak segan-segan membukanya dan membacanya berulangkali sambil tersenyum dengan deguban dada yang berbeda. Itulah kekuatan menulis dalam mengungkapkan rasa kita pada orang lain, dan/atau pada apa saja yang membuat kita ingin merangkai kata menyusun untaian kalimat memaknainya.
Kekuatan tulisan melebihi suara
Perkembangan teknologi, mengantarkan umat manusia untuk banyak berkreasi melaui tulisan, dan menerima cita rasa makna melalui berbagai tulisan yang ditulis oleh penulisnya. Dunia teknologi informasi saat ini membuka kesempatan seluas-luasnya untuk siapa saja mencari dan/atau mendapatkan tulisan sesuai dengan yang kita inginkan. Melalui mesin pencarian Google, kita dapat menelusuri dan/atau mencari tulisan-tulisan yang kita ingin baca, baik sebagai referensi dan/atau sebagai media untuk mengikuti perkembangan dunia dalam tulisan.
Google hanyalah mesin pencari tulisan. Dia tidak dapat menyajikan tulisan yang Anda inginkan, ketika data atau tulisan itu tidak ada yang menulisnya, atau ada yang menulisnya tetapi tidak diunggah pada media yang dapat diakses oleh Google. Dulu kita melakukan pencarian informasi sebagai referensi melalui buku-buku yang tersimpan di perpustakaan. Saat ini, kita dengan sangat mudah mendapatkan secara digital, dengan catatan tlisan-tulisan itu telah terdokumentasi secara digital. Sekali lagi, tulisan yang ada dan Anda dan saya temukan adalah hasil pemikiran yang dituangkan dalam tulisan oleh penulisnya.
Saya, dan mungkin juga Anda, sering terpesona dengan tulisan-tulisan yang kita peroleh. Baik tulisan ilmiah ataupun tulisan populer. Gaya bahasa yang dipilih, dan struktur penyampaian pesannya sangat teratur dan membuat kita sebagai pembaca sangat mudah memahami dan menikmati setiap untaian kalimatnya. Bahkan, untaian kalimat itu mampu membawa kita merasakan apa yang penulis rasakan. Disanalah kedasyatan tulisan lebih dari penyampaian pesan melalui suara.
Menulis mengabarkan pada dunia siapa dan bagaimana kita berpikir
Ala bisa karena biasa rupanya menjadi semangat dari para penulis. Bila sesorang terbiasa mengasah kemampuan suaranya, maka semakin lama olah vokal dan penjiwaan penyanyi mampu membawa pesan pada para pendengarnya. Demikian juga dengan tulisan. Para penulis yang menghasilkan tulisan dengan makna yang bercita rasa aduhai, juga melakukan hal yang sama. Menulis, menulis, dan menulis saya yakini adalah semboyannya. Tentunya, salah satu referensi para penulis adalah tulisan-tulisan sebelumnya, yang ditulis oleh penulis lainnya. Dengan demikian terciptalah kolaborasi indah antara menulis dan membaca. Kolaborasi itu merupakan hasil integrasi antara membaca dan menulis, menghasilkan diksi membaca-menulis, membaca-menulis, membaca-menulis dan seterusnya.
Menulis di sini, bukan hanya sekedar mengetik huruf pada laman media pilihan kita tanpa tujuan dan makna. Semua tulisan menyampaikan pesannya dari para penulisnya. Saat ini, banyak media untuk menuliskan dan sekaligus pada saat yang bersamaan mempublikasikan pada dunia, apa yang kita tulis. Sebut saja facebook, blog, atau website, menyediakan tempat untuk kita gunakan menyajikan tulisan-tulisan kita.
Beberapa orang, termasuk saya, terkadang bahkan sering terpesona dengan tulisan orang lain. Baik tulisan fiksi dan/atau ilmiah. Sepenggal pengalaman saya menulis, juga diinspirasi oleh suami yang gemar menulis. Awal perjumpaan kamipun, di era tahun 2000, saya sendiri masih mengirimkan tulisan tangan untuk menyatakan rasa sayang saya kepadanya, meskipun dia membalas dengan rangkaian tulisan menggunakan komputernya. Dia melakukannya karena sudah tidak terbiasa menulis dengan tangannya, sehingga dia mengakui jeleknya tulisan tangannya. Saya tidak mempermasalahkan hal itu, karena dia sudah mulai terbiasa menulis dengan memainkan jari jemarinya pada keybord laptopnya. Bagi saya, makna tulisan yang dia sampaikan itulah yang saya nikmati dan saya internalisasikan sedemikian cinta itu tumbuh dan berbuah di setiap hari kehidupan kami.
Menulis biasanya dituntun oleh suatu ide. Ide tersebut bisa secara langsung dari kita, dan/atau dari menanggapi fenomena yang ada di sekitar kita. Ide itulah yang menjadi pegangan atau panduan kita merangkai kata menjadi untaian kalimat penuh makna. Selain sikap, suara, kebiasaan bicara, apa yang kita tuliskan juga menjadi bagian orang lain mengenal dan memahami kita. Pada tataran berikutnya, para penulis biasanya secara tidak langsung terbagi dalam kelompok-kelompok gaya menulis dan jenis dan ragam tulisan yang ditulis. Apakah kelompok A lebih dari kelompok B, tentunya tidak demikian adanya. Kelompok-kelompok tersebut adalah ragam dalam menyajikan dan menyampaikan makna ide yang disampaikan melalui tulisan.
Dari tulisan kita, orang yang mengenal dan/atau yang belum mengenal kita, tahu siapa dan bagaimana kita berpikir.
Bagaimana memulai menulis...
Kembali ke kebiasaan menulis. Saya menggunakan FB untuk merangkai cerita untuk menyampaikan pesan disetiap tampilan beranda FB saya, dan mencoba mengasah kemampuan saya menulis pada blog beberapa mata kuliah yang saya dampingi di kampus saya. Sasaran tulisan sayapun menjadi pertimbangan saya menyampaikan isi kepala saya. Beberapa orang dan bahkan banyak dari teman-teman yang merasakan ada yang hilang ketika, suatu waktu FB saya hilang dari peredaran dunia. Ternyata, mereka menikmati tulisan-tulisan saya. Ada rasa senang ketika orang menikmati tulisan kita dan mengapresiasinya. Meskipun, awalnya, ketika saya menulis sesuatu di FB, adalah untuk terus belajar menyampaikan sesuatu melalui tulisan.
Saya biasanya menuliskan apa saja, tanpa berpikir akan diberikan respon atau dibaca oleh siapa saja yang kebetulan tulisan saya dimunculkan di laman FB teman-teman saya. Saya, awalnya adalah untuk mengasah kemampuan menulis dan ingin menyampaikan juga pesan yang sering membungkus sesuatu sedemikian sehingga multi makna bisa disajikan. Pernaikan makna konotatif dan denotatif menghasilkan tantangan tersendiri bagi saya untuk menuliskan sesuatu di FB dan/atau Blog yang saya kelola.
"Benar apa yang dikatakan suami saya, dan juga banyak orang, bahwa tulisan adalah warisan kita pada generasi mendatang, ada dan suadah tidak ada kita''
Ketika ada yang bertanya pada saya, bagaimana bisa Anda meramu kalimat dalam sekejap dengan semua yang sarat makna? Jawaban saya adalah latihan dan berani memulai. Saya teringat senior saya, Almarhun Bapak Thom Therik mengatakan... if you want to swim go to swim... Kalimat itu saya maknai ketika Anda ingin berenang maka lakukan aktivitas belajar dan berenang langsung di kolam renang, jangan hanya dalam imajinasi dan membayangkan. Sama halnya dengan menulis, ketika Anda ingin menulis, tuliskan apa saja tanpa Anda koreksi dan tuangkan apa saja yang ada dipikiran Anda tanpa mengkhawatirkan apakah isinya bisa dimengerti orang lain. Silahkan Anda mencobanya.
Setelah Anda terbiasa menuangkan asosiasi bebas Anda dalam tulisan, tentunya silahkan melakukan dalam satuan waktu yang tertentu dan terukur. Misalnya satu menulis asosiasi bebas apa yang Anda pikirkan dalam satu hari. Tentunya media untuk menuangkan kata per kata adalah bebas sesuai dengan kebiasaan Anda. Ketika Anda terbiasa menggunakan tulisan tangan, silahkan menggunakan, dan bila terbiasa menggunakan laptop, silahkan menggunakannya. Intinya, Anda menuangkan apa saja yang ada di benak Anda tanpa berpikir tulisan itu dibaca oleh orang lain.
Ala bisa karena biasa. Ketika kita terbiasa menuangkan semua yang ada dalam pikiran kita dalam tulisan, kemampuan berikutnya yang kita asah adalah menuliskan secara runut dan sistematis dengan pilihan gaya penulisan disesuaikan. Nah, pada saat inilah, kebiasaan membaca tulisan orang lain sangat membantu kita untuk mendeskripsikan dan/atau menarasikan sesuatu yang ingin kita sajikan kepada orang lain. Dengan berbekal tulisan-tulisan bebas Anda, yang telah Anda perjuangkan komitmennya, Anda perhalus dengan penambahan kalimat sedemikian sehingga mudah untuk dinikmati oleh pembaca. Penataan subjek, predikat dan objek diperjelas sedemikian sehingga pesan yang ingin Anda sampaikan tersurat jelas dalam tulisan Anda.
Berikutnya, ketika Anda ingin mengembangkan kemampuan Anda, silahkan Anda menyampaikan tulisan kepada pembaca. Pembaca bisa orang di sekitar Anda atau orang lain melalui media yang tersedia saat ini. Paling mudah dan murah untuk ukuran saat ini adalah facebook. Facebook yang kita miliki, bisa digunakan untuk mengasah kemampuan kita menulis. Saya memulai dengan menyajikan foto atau video selalu dilengkapi dengan narasi atau deskripsi tentang foto atau video yang saya unggah. Satu hal yang penting adalah kita menyajikan untuk belajar menyampaikan pada dunia, dan ketika belum ada yang merespon, Anda jangan berkecil hati. Intinya, Anda sudah mulai berani menyajikan tulisan Anda di media untuk memberikan ruang pada tulisan Anda menarik pembacanya.
Tulisan memikat pembacanya...
Tulisan memikat pembacanya. Bak magnet yang menarik besi, demikianlah tulisan-tulisan memikat pembacanya. Sebagaimana kita terpikat pada tulisan orang lain, maka hukum yang sama adalah orang lain terpikat oleh tulisan yang kita sajikan. Terpikat pada tulisan bukan hanya sekedar tampilan memberikan respon melalui like, komen, atau membagikan tulisan kita, tetapi mereka membaca tanpa memberikan respon juga sebagai bentuk tulisan kita memikat pembacanya.
Setiap tulisan menyampaikan ide dari penulis kepada pembacanya. Pembaca yang terpikat oleh tulisan-tulisan, selalu terdiam menikmati setiap untaian kalimat yang disajikan. Kita bisa melihat, para penumpang pesawat, duduk dengan memegang buku dan/atau gadgetnya, membaca apa saja yang mereka sukai untuk mengisi waktu menunggu pesawat mereka tiba. Bahkan, aktivitas inipun mereka lanjutkan di dalam pesawat, mengisi waktu menunggu tiba pada tujuan penerbangan mereka. Bukan hanya di bandar udara, di terminal atau stasiun kereta api, kita menjumpai orang-orang yang sedang duduk menikmati kekuatan tulisan pada buku atau gadget mereka. Bahkan ketika koran masih divetak pada kertas koran, banyak orang melakukan aktivitas membaca koran merupakan rutinitas di pagi hari sambil menikmati secangkir kopi atau teh di pagi hari, untuk mendapatkan informasi apa saja yang terjadi kemarin atau beberapa waktu yang lalu.
Demikianlah tulisan hidup dan terus hidup oleh penulis-penulis yang ingin meninggalkan warisan bagi generasi penerusnya, untuk menyampaikan rangkaian cerita pada masanya dan masa sebelumnya. Dengan demikian sejarah kehidupan ide tak pernah putus dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih indah dan berharga pada masa generasi berikutnya.
Salam bagi Anda pembelajar ....

Komentar
Posting Komentar