LARUT, ATAU BERTAHAN DAN KELUAR DARI PUTARAN ARUS

Setiap manusia, lahir dilengkapi dengan segala sumberdaya yang dimiliki. Salah satunya adalah pikiran yang berkorelasi dengan perasaan. Setiap langkah proses hidup, baik keinginan mendapatkan kepuasan melalui terpenuhinya harapan, juga konflik internal dalam pikiran sebagai bentuk proses merealisasikan harapan lainnya, meninggalkan jejak-jejak pikiran dan perasaan di setiap diri manusia. Ketika harapan demi harapan ada yang tertunda pencapaiannya atau pemenuhannya, maka konflik di dalam diri adalah proses alamiah yang terjadi. Konflik-konflik tersebut, pada satu waktu tertentu, melalui proses sintesa berpikir menghasilkan wawasan-wawasan baru yang justeru menjadi kenikmatan tersendiri yang terasa melalui perasaan kita.

Pada bagian lainnya, kehidupan ini selalu berkawan karib dengan masalah. Hingga pada suatu waktu, seseorang merasa dirinya sangat akrab dan dikelilingi dengan masalah-masalah yang ada. Sebenarnya, apa masalah itu? Apakah orang lain tidak memiliki masalah? Siapa sebenarnya yang memicu terjadinya masalah? Kenapa harus saya yang menapatkan masalah itu? Beberapa pertanyaan itu, sering muncul di benak sebagian orang. Ketika pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan dan diingatkan dari pikiran bawah sadar kita, masing-masing orang merespon dengan tiga cara. Ketiga cara tersebut adalah larut, bertahan, dan keluar dari putaran arus pikiran.

Larut dalam putaran arus menyalahkan diri sendiri

Cara pertama adalah terus berenang dan bahkan tenggelam dengan penghakiman diri atau menyalahkan diri sendiri sebagai bentuk menikmati kudapan yang namanya pertanyaan-pertanyaan tadi. Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh pikiran bawah sadar sebagai bentuk adanya data dan fakta diri bahwa diri tidak mampu mengatasi masalah, menjadi manis manja ketika diputuskan untuk dinikmati oleh pikiran sadar kita. Pikiran sadar sebagai nahkota kapal pikiran kita, memutuskan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan diri terus muncul, dan kita diminta menyiapkan jawabannya. 

Pada saat pertanyaan-pertanyaan itu muncul, kemungkinan besar pikiran yang lain memberikan jawaban, dan ketika jawaban dimunculkan, diproses menjadi diterima dan/atau ditolak atau bahkan dibantah oleh diri sendiri. Disinilah konflik itu membutuhkan energi kita. Banyaknya pikiran yang berseliweran, tanpa disadari telah menghasilkan kecepatan tinggi Pikiran Tidak Sadar untuk mengelola energi yang menjadi tugas pokok dan fungsinya dalam tubuh kita. Berkaitan dengan kecepatan energi ini, peluang terjadinya sumbatan energi atau berkurangnya energi yang menjadi hak pikiran lainnya, pada tampilan muka orang-orang yang mengalami hal ini menghasilkan raut muka yang kurang segar bahkan sering mengerutkan dahinya.

Ketika kita bertanya kenapa masalah ini harus saya yang mengalami, kenapa saya terus berada pada keadaan ini, tanpa kita sadari, kita telah menghakimi diri sendiri. Bahkan dikesempatan lainnya, menghakimi orang lain sebagai bentuk pembantahan bahwa diri inilah sejatinya yang mendatangkan masalah untuk diri sendiri. Tanpa disadari, orang-orang pada proses berpikir seperti ini, lupa tujuan berpikir adalah untuk menganalisis masalah dan mendapatkan solusi atas masalah tersebut. Pada tahap selanjutnya, stres dan/atau depresi menjadi kudapan berikutnya yang dirasakan oleh perasaan dan menjadikan tubuh melemah dan imun menurun. 

Bertahan Dan Keluar Dari Putaran Arus

Cara yang kedua ketika pertanyaan tentang apakah orang lain tidak memiliki masalah, siapa sebenarnya yang memicu terjadinya masalah, kenapa harus saya yang menapatkan masalah itu, adalah bertahan sesaat dan berenang melawan arus yang menenggelamkan diri dan berputar pada arus pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka yang memilih cara kedua, berusaha bertahan sejenak dan selanjutnya melawan arus itu sambil berpikir untuk bertahan hingga pelabuhan terdekat. Pertanyaan selanjutnya, orang-orang yang seperti ini, apakah secara otomatis mendapatkan dukungan dari pikirannya untuk melakukan hal itu? Apakah tidak ada pembenaran dan/atau juga pembantahan terhadap jawaban-jawaban atas pertanyaan itu? 

Jawabannya adalah dua bentuk proses penerimaan dan penolakan terhadap jawaban yang dialami oleh orang kelompok pertama dan orang kelompok kedua itu sama. Ketika pembenaran bahwa betul hanya aku yang memiliki permasalahan dan hanya aku yang menyebabkan masalah ini, ada bagian pikiran lain yang membantahnya. Ketika pikiran lain membantah, meski energinya kecil, orang kedua ini melawan arus untuk memberi ruang pada pikiran yang membantah tadi. Bertahan, dan menganalisis yang artinya memberikan ruang untuk dia dihidupi dengan energi yang lebih lagi, sedemikian sehingga ada harapan baru untuk keluar menuju pelabuhan terdekat.

Berapa Besar Kita Mendatangkan Masalah 

Kata masalah sering ada dalam setiap percakapan. Entah percakapan informal, atau diskusi formal melalui rapat pertemuan, dan/atau konfrensi. Bahkan ketika mahasiswa melakukan penelitian diminta untuk merumuskan masalah yang selanjutnya kita batasi masalah itu untuk dijadikan sebagai dasar menentukan metode penelitian yang tepat. Dulu, saya berpikir, sebenarnya apa definisi masalah, mengapa pada pegiat LSM atau NGO mengubah masalah menjadi tantangan.

Hingga saya mendapatkan ringkasan dari membaca beberapa buku, bahwa masalah itu bisa diartikan sebagai kesenjangan antara harapan atau tujuan dengan kemapuan diri untuk menggapainya atau mendapatkan atau mencapai tujuan tersebut. Saya duduk dan berpikir ketika ada pernyataan tentang hidup janganlah mencari masalah. Bila ada pernyataan tersebut, maka masalah itu secara alami tersedia, dan juga kitalah yang memang mencari masalah. Kemudian saya mendapatkan jeda sesaat, apa yang bisa dijelaskan secara sederhana dari masalah itu sebagai bentuk proses alami berpikir dan bertindak, dengan hidup mencari masalah sedemikian sehingga memang sengaja atau tidak sengaja dihasilkan oleh diri sendiri. 

Pada proses berpikir lainnya, wejangan orang tua adalah biasakan menerima hidup apa adanya, hiduplah dengan sederhana, nikmati apa yang ada, hingga kalimat di atas langin ada langit lainnya, dan lihatlah ke bawah dan jangan sering melihat ke atas. Belakangan ini, saya mulai memahami kenapa para sesepuh atau orang tua kita menyampaikan kata-kata itu, yang dulu Anda dan Saya tentunya tidak memahami. Setelah berjalannya waktu, ketika menghadapi suatu masalah, dan sitesa berpikir menghadapi masalah itu menghasilkan wawasan baru, barulah kita memahaminya dan mulai merencanakan kebahagiaan itu yang paking mudah untuk dicapai. 

Ketika seseorang ingin memiliki karier yang cemerlang, apakah salah? Banyak orang ingin memiliki kebebasan finansial sedemikian sehingga hidupnya dipenuhi dengan pemenuhan terhadap hampir semua harapan hidupnya, salahkah mereka? Dan masih banyak pertanyaan yang menjadi jawaban atas kalimat hiduplah sederhana dan syukuri apa yang ada. Kedua pertanyaan tersebut adalah wajar dalam proses berpikir seseorang, tidak ada yang menyalahkan dan tidak ada yang berbondong-bondong memberikan pembenaran. Karena sejatinya dalam proses berpikir yang dipelajari oleh setiap orang yang belajar psikologi, khususnya Psikoanalisis, semuanya berada pada bingkai wajar dan normal.

Bila demikian, bisa dong kita punya target seperti itu? Tentu sangat bisa dan baik adanya untuk membangunkan sumberdaya yang dimiliki, karena sejatinya manusia ketika lahir dibekali dengan segudang sumberdaya. Kemudian apa yang perlu kita perhatikan sebagai lanjutan ketika harapan kita demikian indahnya? Tentunya mendata sumberdaya yang kita miliki, waktu dan lingkungan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika pikiran sadar mengiyakan, maka secara otimatis itu menjadi tombol untuk segera memulai langkah mencapai hal itu. Optimisme dan memotivasi diri adalah pikiran lain yang aktif secara otomatis mendukung pencapaian harapan itu. Benturan terhadap keadaan bukanlah kendala, tetapi itu justeru sebagai upaya untuk lebih meningkatkan keberdayaan kita. 

Sampai disini baik-baik saja terbaca dan terasa. Ketika, suatu waktu kita merasa ada benturan, maka dua hal yang terjadi, maju mencari jalan lain atau kembali pulang pada titik nol. Ketika pulang kembali ke titik nol, maka disitulah kita mencari masalah. Bahasa sederhananya, sudah tahu sangat tidak mungkin mencapainya, kemudian tetap ditetapkan sebagai rencana, dan tidak menyadari bahwa diri kurang berani dan bahkan tidak mempercayai diri ini mampu. Pikiran lain yang ikut berkontribusi juga adalah keinginan berada pada keadaan secepatnya mendapatkan sesuatu itu, sementara secara alamia semua ada prosesnya. Disinilah mungkin yang dikatakan hidup cari masalah. Sudah tahu, saya memiliki tinggi 165, tetap berangan-angan dan berusaha menjadi salah satu kontestan Ratu Dunia, misalnya. 

(16 Februari 2022, 16:00 Wita) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENULIS MENYAJIKAN CITA RASA MAKNA